Beda Zaman, Beda Cara Berjuang

"Berjuanglah sesuai tuntutan zaman".
Kalimat di atas merupakan kutipan dari sambutan mantan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, pada Upacara Hari Bela Negara. Bela negara adalah sebuah konsep yang disusun oleh perangkat perundangan dan petinggi suatu negara tentang patriotisme seseorang, suatu kelompok atau seluruh komponen dari suatu negara dalam kepentingan mempertahankan eksistensi negara tersebut.
Bela negara merupakan suatu bentuk pengorbanan warga negara dalam mempertahankan kehormatan bangsanya. Pada zaman penjajahan, salah satu bentuk bela negara adalah berjuang secara fisik dengan cara mengangkat senjata dan berperang hingga titik darah penghabisan. Namun, pada zaman sekarang cara tersebut sudah tidak bisa digunakan lagi karena situasi dan kondisi zaman sudah berbeda. Saat ini, tuntutan zaman bukan lagi merebut kemerdekaan akan tetapi bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan khususnya dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0.
Awal mula era Revolusi Industri ditandai dengan transisi penggunaan tenaga manusia ke tenaga uap dan air. Revolusi Industri yang kedua yakni tenaga listrik yang menggantikan cara sebelumnya dan membuka peluang untuk memproduksi secara massal. Dukungam industri elektronik dan teknologi informasi mewujudkan otomatisasi produksi sekaligus mendorong lahirnya era Revolusi Industri ketiga. Perubahan yang terus terjadi menjadi sebuah tuntutan kepada manusia untuk terus beradaptasi, termasuk pada era Revolusi Industri keempat. 
Kondisi dunia tengah menghadapi era Revolusi Industri 4.0 ditandai dengan serba digitalisasi dan otomasi. Keadaan tersebut menjadi tantangan bagi suatu negara termasuk Indonesia dalam menyiapkan sumber daya manusia yang produktif dan kompetitif sebagai angkatan kerja sepanjang era Revolusi Industri 4.0. Demografi Indonesia pada saat ini didominasi oleh kelompok usia muda atau yang seringkali disebut generasi milenial. 
Generasi milenial dan era Revolusi Industri 4.0 merupakan situasi dan keadaan yang menggambarkan tantangan bela negara di zaman ini. Presiden Indonesia, Joko Widodo, menyampaikan pesan bahwa generasi milenial harus kritis dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman. Pesatnya perkembangan teknologi telah menelan banyak korban khususnya para tenaga kerja yang lamban dalam menyadari perubahan yang sedang terjadi. Kondisi saat ini telah mendorong perilaku manusia untuk hidup secara instan dengan perantara internet, dari mulai makan hingga belanja semua dapat dilakukan secara online. Dampak lain yang terjadi adalah pemutusan hubungan kerja (PHK) semakin marak akibat digitalisasi dan otomasi era Revolusi Industri 4.0.
Bak pisau bermata dua, era Revolusi Industri dalam waktu bersamaan dapat menghilangkan sekaligus menyediakan lapang pekerjaan yang baru. Respon cepat akan kesadaran perubahan adalah hal mutlak yang mendorong manusia untuk beradaptasi, karena pada akhirnya akan mengubah perilaku, cara bekerja hingga tuntutan keterampilan yang harus dimiliki.
Keunggulan kompetitif dengan dorongan untuk terus belajar hal-hal baru sesuai tuntutan zaman merupakan salah satu cara untuk bertahan. Kunci untuk menghadapi tuntunan era ini adalah kemampuan berbahasa asing dan melek teknologi. Selain berkompetisi dengan individu lainnya untuk memperebutkan tempat yang semakin kecil, manusia juga dihadapkan dengan robot. Meningkatkan sisi human sensory merupakan kunci kemampuan manusia untuk terus bertahan dan tidak tergantikan posisinya oleh robot.
Dalam menghadapi kondisi yang terjadi, sebaiknya pemerintah dan masyarakat melakukan kerjasama dan saling mendukung satu sama lain untuk meredam pesatnya perkembangan zaman sekaligus sebagai bentuk bela negara secara modern. Kolaborasi pemerintah sebagai fasilitator adalah meningkatkan sarana prasarana maupun pelayanan dan masyarakat sebagai pemeran utama dengan cara meningkatkan kemampuan dan memanfaatkan potensi dalam menghadapi arus ketidakpastian. 

Komentar